
Risalah Singkat Musrenbang Regional Kalimantan Tahun 2017 (Bagian kedua) “Buka Isolasi Krayan, Segmen Malinau-Binuang Diusulkan Rp 224,9 Miliarâ€

Setelahsekilas memaparkan wajah Kalimantan yang menjanjikan, Koordinator ForumKerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan (FKRP2RK)sekaligus Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr H Irianto Lambrie pun melontarkan barisan kalimat untukmenggambarkan kebutuhan Kalimantan tahun depan.
=============================================================================
DI atas mimbar, Irianto menyebutkan targetpembangunan wilayah Kalimantan 2018 yang disepakati forum, ditetapkan sesuaikondisi dan kemampuan daerah. Kaltara sendiri pada 2018, menargetkan tingkat pertumbuhanekonomi 4,19 persen, tingkat pengangguran 4,81 persen, dan tingkat pengangguran 4,60 persen.
Berdasarkantarget pembangunan yang dicanangkan pada Rencana Kerja Pembangunan (RKP) 2018itu, maka diintegrasikanlah usulan program pembangunan di Pulau Kalimantanmenjadi dua fokus prioritas regional. Yakni fokus infrastruktur konektivitasdan pemberdayaan energi terbarukan. Fokus utama konektivitas adalahmenyambungkan Sebatik (Kaltara) dengan Sambas, Kalbar (Kalimantan Barat),ungkap Irianto.
DipaparkanIrianto, usulan program dan kegiatan infrastruktur 2018 meliputi peningkatanPelabuhan Ferry di Sebatik dan Nunukandengan estimasi pembiayaan masing-masing Rp 5 miliar, dan Jembatan Nunukan-Tinabasandan Simenggaris Panjang 6 kilometer dan lebar 12 meter, dimana untuk tahap I estimasipembiayaannya Rp 50 miliar. Pulau Tinabasan merupakan salah satu dari 12 titikgelar pasukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) di Kaltara, jelas Irianto.
Usulanlainnya, adalah pembangunan Lintas Selatan Ruas Penajam-Balikpapan sepanjang 45,93kilometer, dengan estimasi pembiayaan Rp 546 miliar; pembangunan jembatan penghubungPulau Laut dengan daratan Kalimantan di Kabupatan Tanahbumbu dan KabupatenKotabaru, (Rp 3,5 triliun); pembangunan Jembatan Panda trase Tabukan-Dadahup (Rp350 miliar); pembangunan ruas jalan batas Kalbar-Tumbang Sanamang-Tumbang Hiran-TumbangSamba sepanjang 203 kilometer dan sepanjang 168 kilometer missing link (Rp 389 miliar); pembangunan jalan trans Kalimantanlintas tengah ruas Nanga Pinoh-batas Kalimantan Tengah (Kalteng) 100 kilometer(Rp 130 miliar); pembangunan jalan paralel perbatasan ruas Ng Erak-batas KalimantanTimur (Kaltim) 105 kilometer (Rp 136,5 miliar).
Lalu, pembangunanjalan segmen batas Kalbar-Tiong Ohang-Long Pahangai-Long Boh sepanjang 224 kilometer,estimasi biaya Rp 332 miliar; pembangunan jalan Tering-Long Bagun-Long Pahangai261 kilometer serta Jembatan Sei Rata (Rp 230 miliar); pembangunan segmenLangap-Long Kemuat sepanjang 24,38 kilometer (Rp 31,7 miliar); segmen LongNawang-Long Pujungan sepanjang 123,08 kilometer (Rp 160 miliar); dan segmen Malinau-Binuang,kondisi 173 kilometer jalan tanah, 20 kilometer beraspal (Rp 224,9 miliar).Segmen Malinau-Binuang merupakan segmen penentu, bagi terbukanya isolasi masyarakatKrayan dengan dunia luar. Selama ini masyarakat perbatasan berhubungan dengandunia luar menggunakan angkutan udara, sehingga berdampak pada tingginya biayahidup di Krayan. Disini banyak sungai namun belum ada Jembatan, jelasnya.
Fokusinfrastruktur lainnya, adalah pembangunan terminal. Yakni, Terminal TanjungSelor (tipe A), Terminal Samarinda (tipe A), Terminal Banjarmasin (tipe A), danTerminal A Singkawang. Masing-masing diestimasikan menelan dana Rp 50 miliar.Ada juga Terminal Barang Ekspor-Impor dengan estimasi Rp 100 miliar diSingkawang. Tanjung Selor sebagai Ibukota Kaltara belum memiliki terminal. Terminal ini sangatbermanfaat saat jalan Transkalimantan sudah terhubung dan berfungsi, terutamaarus penumpang dari Sebatik menuju Samarinda dan Balikpapan, ulas Irianto.
Forum juga mengusulkanpembangunan Pelabuhan Pidada (Kaltara) dengan estimasi biaya Rp 50 miliar,Pelabuhan Maloy (Kaltim) Rp 248 miliar, Pelabuhan Palaran dan Kariangau(Kaltim) Rp 100 miliar, Deep Sea Port Mekar Putih-Kalimantan Selatan (Kalsel)Rp 350 miliar, dan Deep Sea Port Kijing (Kalbar) Rp 50 miliar. Lalu BandarUdara (Bandara), di antaranya pengembangan Bandara Juwata Tarakan, BandaraTanjung Harapan (Bulungan), dan Bandara Nunukan yang kesemuanya di Kaltara.Adapula kegiatan pembangunan Bandara Samarinda Baru senilai Rp 95 miliar,peningkatan Bandara Tjilik Riwut Rp 25 miliar, peningkatan Bandara SyamsudinNoor Rp 25 miliar, pembangunan Bandara Singkawang Rp 25 miliar dan BandaraSukadana Rp 25 miliar.
Fokusinfrastruktur selanjutnya, adalah kereta api (KA). Disini diusulkan pembangunanjalur KA di Kaltim, yang meliputi jalur Samarinda-Bontang-Sangatta (145,475kilometer), Balikpapan-Samarinda (89,228 kilometer) dan Tanjung (Kalimantan Selatan)-TanahGrogot-Balikpapan (233,781 kilometer). Di Kalsel, diusulkan pembangunan jalurKA ruas Tanjung-Tanah Grogot-Balikpapan, Tanjung-Banjarmasin, Banjarmasin-Pelaihari-Batakandan Pelaihari-Batulicin-Tanah Grogot, serta Palangkaraya-Banjarmasin.
UntukKalteng, diusulkan pembangunan jalur KA Puruk Cahu-Batanjung (425 kilometer), Palangkaraya-PulangPisang-Kuala Kapuas-Marabahan-Banjarmasin, dan Palangkaraya-Nanga Bulik.Sementara di Kalbar, diusulkan pembangunan jalur KA Pontianak-Mempawah-Singkawang-Sambas-Aruk,dan Pontianak-Landak-Sanggau. (bersambung)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
